In diving NTT traveling

Diving di Taman Nasional Komodo

Lama tak berkunjung ke kedalaman, di bulan April kemarin saya mendapatkan jadwal pertemuan di Labuan Bajo. Sudah beberapa kali kesana tetapi aktivitas yang saya lakukan hanya wisata kuliner dari café ke café dan island hopping LOB. Dalam kunjungan kali ini saya ingin merasakan menyelam di Komodo dan kemudian membuat janji dengan seorang teman (Prilli) yang juga hobi diving. Kami pun menyusun rencana setelah menyelesaikan pekerjaan. Sepanjang jalan di Kampung Tengah alias Kampung Bule Labuan Bajo banyak dive center dan agen open trip, sehingga kita memiliki banyak pilihan. Kami memilih Dive Komodo silakan klik linkberikut, yang berada di seberang Homestay Gardena dengan pertimbangan si teman sudah pernah menggunakan service mereka dan ada trip yang tersedia di hari yang kami butuhkan. Disitu juga kami mengisi declaration form dan menunjukkan diving license, Dive Master sempat menanyakan sudah diving berapa kali sebelumnya. Adapun dive spot yang akan kami selami yaitu Siaba Besar, Siaba Kecil, dan Mawan. Kami tidak mendapatkan Batu Bolong yang menjadi poin utama dari TNK.



Di sore hari kami datang dan melakukan fitting untuk alat yang akan digunakan esok harinya, alat-alat tertata rapi dan bersih di dalam penyimpanan. Pagi harinya kami check out dari Hotel Luwansa, berpindah ke Bajo Hotel dan langsung berjalan kaki menuju dive center pukul 07.00. Kami sempat menunggu 15 menit di dive center sebelum berjalan ke pelabuhan. Kami memasuki kapal dan mendapatkan briefing dari Dive Master sebelum kapal berjalan dan apa saja yang harus kami persiapkan. Informasi yang diberikan semuanya dalam Bahasa Inggris berhubung hanya ada 2 orang diver yang dari Indonesia (yaitu kami ber 2) selebihnya adalah turis asing. Total peserta dive kali ini sebanyak 8 orang dan ada 3 orang yang masih harus mengambil refresh. Mereka yang terakhir kali menyelam lebih dari 6 bulan terakhir harus mengambil refreshment yaitu pengenalan kembali dan ada test tertulis untuk mengingatkan tentang teori. Untungnya terakhir kali saya diving di bulan Desember 2016, sehingga tidak perlu mengambil refreshment lagi.

Penyu di Siaba
Saat turun di spot pertama, saya masih harus mengumpulkan keberanian untuk entry dengan cara giant strike karena selama ini terbiasa turun dengan gaya seated. Akhirnya saya berani dan masuk bersama dive master dan teman saya Prilli. Kami mulai turun dan dapat melihat cukup terang karena visibility yang baik dan masih melihat pasir, 15 menit kemudian kami mulai melihat terumbu karang berwarna-warni dan PENYU. Ya, Siaba merupakan habitat baik penyu hijau. Saya yang sebelumnya tidak pernah melihat penyu di habitat asli pun langsung kegirangan karena bisa melihatnya bukan hanya 1 tetapi sampai di 5 titik sekaligus! Terumbu karangnya masih sangat alami dan membuat saya benar-benar merasa sedang berkelana di taman bunga yang cantik. Terjadi kejadian lucu di dive kedua, saya yang tak biasa diving di kondisi arus cukup kaget ketika melewati wall yang arusnya kencang dan malah berusaha melawannya yang malah membuat saya menjauh dari buddy. Akhirnya saya sudah mulai menikmati arusnya, malah merentangkan tangan seolah-olah sedang terbang. Kami sempat bertemu dengan seekor pari tutul dan Crocodile fish yang aneh disini. Setelah menyelesaikan dive pertama, kami menikmati makan siang yang enak di kapal. Makanan dan minuman yang disedikan rasanya enak dan tidak kekurangan. Untuk snack di pagi hari ada donat dan pisang kemudian di sore hari tersedia biscuit. Air mineral, kopi, teh tersedia selalu dan silakan meraciknya sendiri.
Crocodile Fish alias Ikan Buaya


Sebelum turun di dive spot terakhir, kami mendapatkan briefing bagaimana cara berinteraksi dengan manta. Dive Master melarang dengan keras untuk berada terlalu dekat di depan manta dan tegas mengatakan tidak boleh menyentuh manta ataupun Cleaning Station. Apabila ada yang melakukannya maka kita akan langsung kembali ke atas. Mawan sendiri adalah Cleaning Station milik manta, artinya Manta datang ke titik ini untuk membersihkan dirinya (mandi) di beberapa coral langganan nya. Di TNK sendiri biasanya ada 2 tempat untuk melihat Manta Ray yaitu Manta Point sebagai tempat makan dan Mawan tempat mandi. Kami menyelam cukup lama dan harus melawan arus yang cukup melelahkan dan hasilnya tidak ada manta yang bisa kami temukan. Saya sempat melihat sekelebat bayangannya tetapi tidak menemukannya kembali. Tak apalah, yang penting saya sudah pernah bertemu Manta walaupun saat itu hanya dengan freediving.

Menyelam di antara Bumphead Parrot Fish
Warna-Warni di Siaba Kecil
Manta Ray di Manta Point tahun lalu :(

Selesai menyelam, kami naik kembali ke kapal mencopot peralatan dan mengeringkan badan dengan tiduran di deck atas kapal. Pukul 17.00 kami sudah kembali merapat ke pelabuhan di Labuan bajo, kembali ke dive center untuk meminta stamp di logbook masing-masing. Overall saya sangat puas dengan service yang diberikan oleh Komodo Dive dengan harga Rp 1.500.000 mendapatkan 3x dive, pelayanan kru yang mengurus hingga printilan seperti langsung merapikan alat dan menyusun sesuai dengan nama diver. Sehabis menyelam kami kembali ke penginapan, mandi dan kemudian buru-buru mencari makanan karena rasa lapar yang luar biasa. Diving ke 3 dalam pencarian manta menguras energy luar biasa dan saya masih harus berjalan kaki ke Kampung Ujung untuk bertemu teman dan kemudian menghabiskan makanan yang sangat banyak. Sungguh saya belum pernah merasa se lapar itu

Wajah Kelaparan

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In diving majalah menulis traveling

Menyelam Lebih Dalam di Kupang on Awksmag

Siapa menyangka bahwa dari sebuah chat random yang mampir di inbox instagram kemudian meminta saya untuk menulis tentang pengalaman menyelam menghasilkan tulisan pertama saya yang dimuat di sebuah Free magazine indie. Sungguh saya sebenarnya kurang percaya diri menulis tentang diving sementara log diving masih sangat minim dan baru menyelam di Kupang. Tapi biarkanlah saya menuliskan pengalaman dari seorang pemula, siapa tahu ada beberapa calon pemula yang ingin mencoba nya.

Sila cek di link Awksmag berikut

https://issuu.com/awksmag/docs/_7_awksmag_obsession?e=23211328/40763124

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In NTT traveling video vlog

2nd VLOG - Sailing Labuan Bajo Day 1



Membuat travel vlog untuk perjalanan Sailing Labuan Bajo di Hari Pertama.

Adapun itinerary nya:

1. Kanawa Island
2. Kelor Island
3. Sembilan Island - Jellyfish lake
4. Rinca Island
5. Kalong Island

Taken with : Gopro Hero 4 Silver
Edit : Gopro Studio

Song :
Beautiful Day - U2
Don't wanna know - Maroon 5
Happy background music
Happy ukulele
Carefree - Kevin Mc Leod

Please enjoy my video and don't forget to subscribe

Thankyou


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In healthy kupang yoga

Tentang Yoga


Di saat masih berkuliah di Kota Bandung, saya sempat tertarik untuk mengikuti yoga namun ntah mengapa saat itu saya lebih memilih untuk keluar masuk gym mengikuti kelas aerobic atau mengangkat beban. Selama kurang lebih 2 tahun dengan terputus-putus di tengah jalan, saya sesungguhnya menikmati berolahraga dalam ruangan sambil memandangi cermin atau pria-pria dengan lengan menggoda :D.  Berpindah ke Kupang, saya mulai kehilangan rutinitas nikmat tersebut karena intensitas travel yang sangat tinggi dan belum memiliki kendaraan. Saya hanya mencoba jogging di Taman Nostalgia Kupang atau Lapangan Polda NTT dan berenang setiap minggu di Hotel On The Rock. Di suatu hari bulan September 2015, seorang teman penggila gym dan body obsession mengatakan bahwa di tempat fitness nya membuka kelas yoga. Tanpa pikir panjang, saya pun memacu sepeda motor dan menanyakan jadwal kelasnya. Oke jadwal cocok.

Side plank pose


Di kelas pertama, saya masih kebingungan dan berusaha mengikuti flow nya. Beberapa gerakan pemanasan ternyata sama dengan body weight training yang pernah diajarkan oleh instruktur fitness saya seperti plank dan side plank. Tiba di challenge pose, kami ditantang untuk melakukan sikap lilin (shoulderstand)  dan kemudian mendorong kaki hingga menyentuh lantai. Surprisingly, saya bisa melakukannya tanpa halangan sedikit pun. Di percobaan pertama saya langsung bisa melakukan plow pose atau halasana. Saya pun meminta difoto dan di akhir kelas, sang instruktur mengajak saya berkenalan kemudian kami ber pigeon pose (ekapada raja kapotasana) dan saya bisa melakukannya dengan baik.

Eka pada rajakapotasana



Saya mulai berkomitmen dengan bergabung sebagai member di Extreme Gym Kupang dan mengikuti kelas yoga. Saya mulai memahami bahwa gerakan yoga tak semudah yang dipikirkan dan bagaimana menikmati proses nya. Saya belum pernah merasakan olahraga yang mengucurkan keringat sebanyak yoga dan benar-benar tertantang untuk mengikuti setiap tahapan gerakannya. Disini pula saya bertemu dengan banyak orang yang juga baru mulai belajar dan melihat kemampuan yang berbeda-beda. Di akhir kelas, terkadang kami mengobrol dan berfoto dengan pose-pose yang terinspirasi dari instagram. Hampir setahun saya mengikuti yoga dan suatu hari sempat iseng berucap kepada si instruktur, “Fokus saja, jangan kemana-mana supaya nanti bisa buka studio sendiri”. Beberapa bulan kemudian, si instruktur mengumumkan bahwa dia akan membuka studio sendiri dan akan ada macam-macam kelas.



Setahun lebih saya sudah mengikuti yoga, meskipun tak selalu rutin dan masih jauh dari kata sempurna sambil  saya juga berusaha menerapkan pola makan sehat, memasak sendiri, dan menghilangkan nasi. Banyak yang bertanya, “sudah turun berapa kilo?” “kenapa tidak ada perubahan?” Saya hanya ingin tertawa, ternyata cara pandang hidup sehat hanya dimaknai penurunan kilogram di timbangan. Ingin rasanya tertawa tetapi saya rasa tidak perlu, biarlah mereka menilai demikian yang penting lingkar pinggang saya kian berkurang setiap tahun, hasil lab medcheck bersih dari tanda bintang, kemampuan berenang dan lari yang kian meningkat, serta tak pernah sakit berarti selama setahun. Bukan kah hal itu lebih pantas untuk disyukuri? Saya juga sangat bersyukur bisa menemukan jalan untuk menemukan studio yoga di kupang dan bertemu dengan teman-teman baru di tempat ini yang juga menjadi partner untuk berproses lebih baik lagi saat yoga.

Acro yoga bersama si instruktur

 Terlepas dari kontroversi yang mengatakan bahwa yoga bukanlah bagian dari olahraga, tetapi saya belajar banyak hal dari yoga. Saya mulai memaknai pesan dari si instruktur bahwa Yoga adalah perjalanan, saya semakin mengenali diri saya ketika melakukan yoga. Banyak yang berkata bahwa tubuh saya cenderung lentur dan terbukti bahwa saya memang bisa kayang sejak SD hingga hari ini tetapi kelenturan di backbending bukan berarti saya mampu melakukan yoga dengan mudah. Ada banyak pose yang masih sulit untuk saya lakukan, tetapi saya masih mencoba dan menikmati setiap prosesnya yang membuat saya semakin mengenali diri sendiri. Yoga bukan sekedar melipat-lipat tubuh dan kemudian berfoto, ada banyak nilai yang bisa kita gali dan sungguh saya semakin penasaran dengan hal lain tentang yoga. Saat ini rasanya saya telah menemukan perjalanan yang menyenangkan bersama yoga, dan berusaha menularkannya pada orang lain meskipun sepertinya belum ada yang sukses tertular tetapi saya berani menyatakan bahwa saya jatuh cinta pada yoga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In kupang life NTT pulau kera scubadiving traveling video vlog

First VLOG - Diving di Pulau Kera

Mencoba kekinian dengan membuat VLOG ala-ala dan membagikan keindahan bawah laut di pulau kecil di seberang Kota Kupang. Please watch and enjoy it...




NB : Yang butuh info untuk Diving di Kupang, silakan kontak saya via instagram :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In life merenung

Menjadi Volunteer Super

Gambar dari sini


Saya tertarik melihat beberapa project crowd funding dan berdonasi yang saat ini semakin mudah ditemukan di Indonesia. Sungguh sebuah budaya yang baik, terbukti bahwa meskipun bangsa ini memiliki Indeks Harapan Hidup yang relative rendah ternyata masih banyak yang mampu memberi bagi sesama. Selain memberi melalui donasi, saya juga melihat adanya trend volunteer yang cukup banyak dalam tahun terakhir. Saya yang bekerja di sector social sering mendapat pertanyaan, “Adakah kesempatan untuk menjadi volunteer di organisasimu?” Saya pernah menjawab ya dan pernah juga menjawab tidak sambil merekomendasikan beberapa gerakan social yang secara rutin membutuhkan volunteer untuk mengisi kegiatan mereka. Saya pun pernah beberapa kali menjadi volunteer di beberapa kegiatan, walau mungkin sebenarnya tanpa menjadi volunteer pun saya bisa dengan leluasa pergi ke desa, bertemu anak-anak dan masyarakat sesuai pekerjaan saya. Tapi sekali-kali saya merasa perlu melepaskan bendera organisasi yang melekat erat pada diri saya, sehingga ketika turun dari mobil pun masyarakat dan anak-anak sudah mengetahui siapa yang datang.

Beberapa hari sebelum kegiatan volunteer atau voluntourism digelar, biasanya panitia akan sibuk mengumpulkan berbagai macam donasi dan yahh saya menemukan bahwa yang saat ini sangat hip adalah “BUKU” Sungguh niat yang amat mulia menyebarkan hobi membaca dan berharap dapat meningkatkan kemampuan literasi hingga ke pelosok negeri ini. Muncullah berbagai gerakan anak muda yang rela bersusah payah mengumpulkan donasi dan orang-orang tak lupa pula ada beberapa yayasan yang siap menyalurkan dana mereka pada komunitas berbagi tersebut. Sungguh saya amat bangga sebagai anak muda Indonesia melihat kerja teman-teman saya itu, apalagi saya yang hanya berdiam diri memantau dari sosmed dan tidak berbuat apa-apa sebelum hari H.

 Pada saat hari H, panitia pun mulai sibuk mengatur keberangkatan, logistic, transport hingga akomodasi dan ya itu dia barang-barang hasil donasi yang sangat banyak. Setibanya di tempat tujuan, masyarakat dan anak-anak sudah menantikan kehadiran para tamu. Para volunteer kemudian mulai bergabung dengan anak-anak dan melakukan berbagai kegiatan yang pastinya tak lepas dari bergerak dan menyanyi (Jangan lupa dokumentasikan dengan smartphone dan kamera andalan, mau diposting? Sabar nunggu ada sinyal) . Di sisi lain ada sekelompok yang mulai membongkar buku-buku dan menyusunnya dengan rapi ala perpustakaan, dan mata saya pun tertuju pada setumpuk buku vintage dengan title CBSA, apa itu CBSA? Saya pun teringat pada sebuah kurikulum zaman jahiliah bernama “Cara Belajar Siswa Aktif” dan setumpuk buku zaman Orba bahkan ada yang dicetak di saat ayah saya masih kuliah! Beberapa buku bekas memang merupakan sumbangan dari orang-orang, namun saya bingung mengapa buku zaman Orba tersebut masih terlihat rapi dan ternyata dibeli dengan harga yang sangat murah dari Toko Buku. Buku-buku kemudian disusun dengan rapi, tak lupa didokumentasikan detik per detik nya. Jangan lupa di akhir, memajang buku-buku bagus di bagian terdepan dan cekrekk. Sungguh anak muda yang sangat visioner, ketika pemerintah berusaha membuat kurikulum yang fantastis setiap ada menteri baru dan kalian malah merekomendasikan buku-buku zaman orba ya mungkin kita memang belum move on. Bagaimana mau move on ke full day school bila ternyata buku Orde Baru terbukti masih berkualitas? :)

Sebelum berpisah, tiba lah saat yang dinantikan apalagi kalau bukan bagi-bagi. Anak-anak dan masyarakat pun menerima beberapa hadiah yang membuat senyum mereka tambah sumringah tak lupa dokumentasi siaga penuh dan di akhir acara…. Anak-anak pun dilatih berulang kali untuk mengucapkan paduan suara berisi,” TERIMAKASIH …………… (iklan)” Rasa kagum, miris, dan ingin tertawa pun bercampur. Saya kemudian mengetahui bahwa dokumentasi ini menjadi sangat penting untuk portfolio pribadi ataupun kelompok di social media ohh ya juga untuk tanggung jawab kepada sang pendonor yang notabene berisi putera-puteri terbaik negeri ini dengan kadar pendidikan yang jauh melebihi saya. Bila sudah menemukan sinyal, jangan lupa share dengan hestek kekinian dan sebarkan semangat berbagi! Jangan lupa tonton videonya, timelapse nya keren loh…

Di akhir kata, ampunilah saya seorang yang nyinyir dengan perbuatan baik orang lain, memang saya bukan pemberi yang baik bahkan tak mampu merelakan buku-buku nya untuk dibagikan karena saya memang sangat mencintai buku-buku tersebut. Terberkatilah para pemberi baik hati di tempat nun jauh disana yang memandang dokumentasi dan pertanggung jawabannya dengan senyum haru. Untuk anak-anak muda semangatlah menjadi aktivis social dan semoga sikap relawan tetap tumbuh tanpa batas di negeri ini sejalan dengan feed social media kita. Semoga kita tidak hanya bisa memberi materi, tetapi juga memberikan hati kepada mereka yang terpinggirkan. Untuk sang penerima, bersyukurlah meskipun kalian tidak tahu itu datang darimana dan bagaimana menggunakan bantuan tersebut. Salam solidaritas!

Kemudian saya teringat lagu sekolah minggu

“ B’RILAH YANG BAIK, 
   B’RILAH YANG BAIK, 
  TUHAN SUDAH MEMB’RI KAU YANG TERBAIK.
  APA YANG KAU B’RI, B’RI LAH SKARANG. 
  TUHAN PASTI BALASKAN DAN BERKATI KAU S’LAMANYA…”

Tertanda
Mari Berefleksi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In beauty diving kupang life NTT

Perawatan Kulit Tukang Bapanas

Selama 2 tahun tinggal di Kota Kupang, ada banyak istilah yang saya kenal dan tentunya saya semakin ahli berbicara dengan logat Kupang yang kaya orang nge rap . Cuaca yang panas tentunya melekat erat dengan Kota Karang di pesisir teluk Kupang ini, orang-orang disini biasa menyebut “Bapanas” untuk panas-panasan atau berdiri di bawah terik matahari. Saya yang banyak berkegiatan di luar ruangan entah itu bekerja ataupun menyalurkan hobi tapaleuk (tukang jalan-jalan) tentunya sering terpapar matahari apalagi ketika ke tempat favorit saya yaitu PANTAI. Saya sangat menyukai pantai, dan paling anti ke pantai dengan menutup kulit karena takut hitam, IT’S A BIG NO! Mungkin karena saya cuek atau memang sangat menyukai pantai dan sinar matahari. Saya menikmati segala kegiatan di pantai mulai dari berenang, tidur-tiduran di pasir, berjalan menyusuri pantai, snorkeling, free dive, hingga scuba diving. Banyak yang penasaran mengapa saya tidak terlihat hitam atau menggelap dengan aktivitas bapanas yang memenuhi feed instagram. Oke saya akan berikan ceritanya…

Bapanas


Kulit saya memang termasuk jenis kulit badak yang cukup kuat menghadapi beberapa pencobaan seperti sinar matahari, coba-coba skin care, make up bahkan produk kadaluarsa (plis jangan ditiru). Saya gemar mencoba berbagai produk skin care dan make up sejak masa kuliah, walaupun produk yang saya coba memang sangat terbatas umumnya hanya yang masuk golongan drug store atau beberapa high end brand. Biasanya saya teracun oleh review-review di blog Indonesian Beauty Blogger ataupun female daily namun tetap saja semuanya tergantung kondisi keuangan. Saya juga berprinsip bukan karena saya tinggal di pinggiran dan bekerja di lapangan lantas membuat saya melupakan perawatan kulit dan juga kulit badak lantas saya jadikan alasan untuk tidak merawat kulit. 

Foto asli tanpa filter dan edit sehabis berenang seharian di Rote


Perawatan Harian

1. Pagi hari cuci muka dengan Facial Wash L’oreaL, tepuk-tepuk essence Secret Key tunggu beberapa detik hingga meresap, lanjutkan dengan moisturizer Secret Key. Saya memilih Secret Key karena tertarik pada beberapa review dan dikatakan mirip dengan SK-II yang tentunya belum sanggup saya beli dan kondisi kulit wajah yang juga tidak memiliki problem. Selesai dengan moisturizer, saya mengoleskan sun block Parasol yang murah meriah dan tetap menjadi idola tak lupa mengoleskan lip balm Sebamed yang juga memiliki SPF. Setelah skincare routine selesai barulah saya melanjutkan dengan make up seadanya yaitu eyeliner, alis, dan lipstick. Bekerja di NGO tentunya tak menuntut make up, bahkan kadang-kadang saya juga berangkat ke kantor tanpa make up sama sekali dan tetap saja matching dengan seragam kaos dan jins (jangan sirik!). Untuk kulit badan, saya hanya menggunakan lotion drug store seperti Vaseline atau Nivea yang juga setiap bulan berganti varian tetapi saya selalu memilih body lotion dengan SPF

Secret Key Starting Treatment Essence (gambar dari sini)
Sunblock wajah favorit (gambar dari sini)

Sebamed Lip Defense (gambar dari sini)

2. Sebelum tidur, berhubung saya juga sering malas mandi maka saya hanya membersihkan wajah dengan Nivea Milk Cleansing dan toner. Saya tetap menggunakan essence dan moisturizer Secret Key untuk perawatan kulit di malam hari. Apabila sedang rajin mandi (biasanya setelah berolahraga) saya menggunakan body butter di tubuh dan menikmati aromanya.

3. Mengkonsumsi Vitamin E dan C, silakan pilih sendiri vitamin E dan C yang cocok dan banyak beredar di pasaran.

Saat ke Pantai

1. GUNAKAN SUNBLOCK! Wajib hukumnya untuk digunakan, bukan body lotion! Saya pernah menemukan teman yang sibuk mengoleskan body lotion saat di pantai, mungkin banyak yang belum ngeh pentingnya sunblock. Saya menggunakan sun block wajah setiap hari meskipun hanya di dalam kantor apalagi saat ke pantai. Untuk wajah saya tetap menggunakan Parasol SPF 30 dan untuk tubuh saya gunakan Banana Boat SPF 50. Sebelumnya saya sempat menggunakan Sunblock Nivea tetapi sukses membuat saya sunburn parah ketika seharian island hoping di Riung. Saya mengoleskan sunblock Banana Boat sebelum berangkat ke pantai tak lupa lipbalm Sebamed, reapply sebelum terjun ke laut (biasanya saat di atas perahu atau dermaga), reapply setelah 2 jam terpapar matahari. Saya sudah mencobanya ketika snorkeling di Alor, island hoping di Rote dan Scuba Diving. Saya bisa tetap menikmati keindahan pantai tanpa takut gosong dan leluasa menggunakan swim suit.
Sunblock ampuh (gambar dari sini)

2. Setelah aktivitas pantai, biasakan untuk mandi dengan air tawar dan sabun yang lembut. Oleskan after sun lotion atau lotion yang mengandung aloe vera, saya menggunakan Jergens aloe vera. Setiap hari oleskan body lotion seperti biasa dan 3 hari setelah beraktivitas di pantai lakukan scrubbing, saya biasa menggunakan Lulur Purbasari varian macam-macam untuk eksfoliasi kulit mati.

Aloe soothing sahabat pendingin (gambar dari sini)


3. SUNBURN, hal ini yang paling ditakuti tetapi tenang saja saya sudah menemukan solusinya. Untuk kulit sunburn biasanya langsung terasa perih ketika mandi sehabis aktivitas. Oleskan aloe vera gel atau lendir lidah buaya asli untuk menyerap panas di kulit biarkan hingga kering. Jika tidak menemukan lidah buaya, oleskan lulur mandi tapi jangan digosok atau kompres dengan es. Ulangi pemakaian hingga rasa perih hilang. Setelah 3 hari biasanya kulit akan mulai mengelupas disertai dengan rasa gatal luar biasa dan rasa panas. Untuk mengurangi gatal dan panas, oleskan Caladine cair dan jangan digaruk! Menggaruk hanya akan menambah iritasi dan memperlama proses penyembuhan. Beberapa hari kemudian kulit akan mengelupas dengan sendirinya, untuk menjaga kulit tetap lembap oleskan body lotion atau body butter. Untuk kulit wajah tetap gunakan moisturizer dan oleskan madu di malam hari, setelah seminggu lakukan peeling dan masker. Saya menggunakan peeling La Tulipe atau masker dan peeling murah meriah dari Mustika Ratu.

4. Rambut
Sehabis terkena air laut, rambut akan terasa kasar dan cenderung kusut. Segera keramas menggunakan shampoo yang lembut dan akhiri dengan hair mask. Sisir rambut menggunakan jari saat mengaplikasikan masker di rambut untuk memisah-misahkan rambut yang kusut. Bilas hingga bersih, keringkan dan oleskan hair oil.

Produk-produk di atas tidaklah sulit untuk ditemukan, bahkan di kota kecil seperti Kupang. Ohh ya untuk Secret Key saya tetap memilih belanja online dari beberapa online mall dan sejauh ini tidak pernah dikecewakan. Review dan pengalaman di atas juga berdasarkan pengalaman pribadi dan keterbatasan uang jadi belum tentu cocok di semua orang. Apapun aktivitasmu jangan pernah lupakan merawat diri dan jangan pernah takut pada matahari!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

featured Slider